Scene 1
(Pada sebuah senja yang hangat. Terlihat seorang bapak yang sedang memainkan serulingnya dengan anak perempuannya yang sedang duduk di sampingnya. Seorang bapak dan anak perempuannya itu adalah sepasang pengamen yang setiap harinya mengamen di depan situ, di emperan plaza—tepatnya, di bawah etalase kaca sebuah gerai sepatu anak-anak).
Scene 2
(Sepanjang jalan emperan plaza itu. Orang terlihat lalu-lalang. Saling berpapasan tapi tidak saling menyapa).
Scene 3
(Si bapak terus memainkan serulingnya, meniup dan memencet nada-nada yang terdengar syahdu, dan beberapa orang yang melintas terlihat menjatuhkan uang receh—entah takjub dengan permainan serulingnya, entah iba dengan pemain serulingnya—di dalam gelas aqua yang berada tepat di depan si bapak).
Scene 4
(Di sampingnya, anak perempuannya terlihat sedang menghadap ke arah etalase kaca. Rupanya ia sedang asyik memandangi sepatu-sepatu yang di pajang di dalamnya—khususnya sepatu yang mencuri hatinya, sepasang sepatu yang ada di ujung sebelah kanan).
Anak
(Sambil menoleh ke arah ayahnya yang sedang sibuk meniup seruling).
Aku pengen sepatu kuwi pak…
Bapak
(Setelah si anak berkata kepada si bapak. Suara dari seruling yang sedang di mainkan si bapak lambat laun hilang. Kemudian si bapak berkata pelan).
Sesok yo nduk…
Anak
Ket mbiyen koq sesok-sesok terus to pak…
Bapak
(Si bapak hanya diam, sambil terus memandangi wajah dan mata anaknya yang masih terlalu polos itu dalam-dalam. Lalu si bapak mengelus-elus kepala anaknya).
Sesok yo…
(Ucapnya lembut, dengan mimik muka yang meyakinkan).
Scene 5
(Perlahan hari telah gelap, jalanan di sepanjang emperan plaza sudah terlihat sepi. Hanya satu dua orang saja yang masih terlihat lalu lalang. Dari luar, lampu pada beberapa gerai terlihat padam satu demi satu—tanda sudah tutup—kecuali gerai sepatu tempat si bapak dan si anak itu berada. Memang dari luar gerai sepatu anak-anak itu masih terlihat terang. Tapi dengan tiga orang pramuniaga yang terlihat sedang berkemas-kemas di dalam—tanda mau tutup).
Scene 6
(Si bapak berdiri dan membalikkan badannya menghadap ke etalase kaca. Selepas menghitung semua uang yang di dapatnya seharian, yang tentu saja jumlahnya tak seberapa).
Bapak
(Bertanya kepada anaknya yang sedang asyik menari-nari dan berlari kesana kemari).
Nduk! Sepatu sing mbok pengeni sing ndi to?
Anak
(Si anak menghentikan keasyikannya. Lalu mendekatkan badannya ke etalase kaca dan menunjuk sepatu yang di inginkannya sejak dulu).
Sing kuwi…
(Si anak berkata tanpa beban. Lalu kembali melanjutkan keasyikkannya. Ia kembali menari dan berlari kesana kemari seperti tadi).
Bapak
(Si bapak memandangi sepatu yang diinginkan anak perempuannya itu. Lalu dilihatnya harga sepatu itu).
Aduh, regane jebule larang banget…! Duwit sak mono, iso entuk soko endi aku!!?
(Lalu matanya tertuju kearah seruling yang ia genggam).
Ngedol seruling iki yo gak mungkin, payuo yo paling gak sepiro…?
(Kemudian dipandanginya si anak, yang sedang asyik bermain. Pada saat itulah mata si bapak mulai terlihat berkaca. Lalu dalam hati ia berkata)
Sesok sing tak maksud mau kuwi koyoke dudu sesok nduk…
Scene 7
(Si anak seolah cuek dan tidak sadar, kalau bapaknya dari tadi sedang memperhatikannya dengan mata yang berkaca. Ia terus menari dan berlari kesana kemari di sepanjang jalan pada emper plaza yang lenggang dan terlihat sepi oleh pejalan kaki. Entahlah, mungkin saat itu si anak seperti menemukan kebahagiaan dan kebebasan yang teramat sederhana, dari kaki kecilnya yang telanjang, tanpa alas itu. Makanya ia seperti mati rasa terhadap kesedihan bapaknya, bahkan kesedihannya sendiri).
Scene 8
(Bapaknya masih dalam posisinya tadi—berbalik dan menghadap ke arah etalase kaca—Matanya semakin terlihat berkaca. Ah, perasaan yang kini ia rasakan adalah perasaan tak berdaya sebagai seorang bapak, di tambah lagi dengan pikiran yang bingung, pikiran yang tak kunjung berhasil menemukan jalan keluar. Bagaimana cara memenuhi janjinya, membelikan sepatu untuk anak perempuannya, yang tadi sore sudah terlanjur ia tambatkan kepada anaknya? Dan sekarang pun ia jadi kebingungan. Bagaimana cara membeli sepatu yang sejak lama diinginkan anak perempuannya itu? Tak mungkin ia membohongi anaknya lagi seperti biasa dengan menjawab, “sesok yo nduk”, ketika besok anaknya kembali meminta, “aku pengen sepatu kuwi pak…” Tak mungkin, tak mungkin si bapak bohong lagi. Sebab untuk kali ini, si bapak benar-benar sudah tak kuasa lagi berbohong untuk yang kesekian kalinya kepada anak perempuannya itu, yang memang tak pernah punya sepatu, sejak lahir sampai sekarang).
Scene 9
(Si anak yang dari tadi terlihat terus berlari kesana kemari, sepertinya sudah mulai terlihat kelelahan. Sejenak kemudian si anak duduk, sambil menyelonjorkan kaki kecilnya yang semakin terlihat dekil saja, khususnya pada bagian alas kakinya. Karena kakinya yang telanjang tanpa alas itu. Baru saja ia gunakan untuk menari-nari dan berlari-lari kesana kemari. Si anak sekarang duduk manis dengan kaki kecilnya yang ia selonjorkan, sambil sesekali ia goyang-goyangkan).
Anak
(Sejenak kemudian matanya mengarah kembali kepada sepatu yang diinginkannya tadi. Ia memandangi warna, bentuk dan lekuk sepatu itu dalam-dalam. Kemudian ia berkata kepada bapaknya yang dari tadi masih juga berdiri dengan posisi yang sama).
Aku rak sido njaluk ditukokke sepatu kuwi, ah pak! Koyokke sepatu kuwi rak penak nek nggo nari-nari karo mlayu-mlayu.
Ayo bali wae pak,
Ibu karo adik mesti
(Sambil menunjukkan telunjuknya ke arah entah).
Iki kan wis wayahe mangan, pak! Duite mau dinggo tuku mangan wae sing akeh.
Bapak
(Si bapak tiba-tiba tersenyum. Rasa tidak berdaya yang melingkupi hati dan pikirannya tadi, seolah lenyap seketika. Setelah mendengar perkataan anaknya barusan. Si bapak pun lalu mengusap air matanya, yang baru saja meleleh).
Anak
Loh, pake bar nangis po? Padahal ora ono opo-opo, koq nangis!
Bapak
(Kemudian si bapak kembali mengusap-mengusap lelehan air matanya dengan punggung telapak tangannya)
Ora…bapak ora nangis! Ming mau rosone, moto iki rodo pedes…
Wis ayo bali…!
(Si bapak menggandeng tangan kecil anak perempuannya itu).
Bener omonganmu nduk! Sepatu jinjit ngono kuwi pancen gak penak nek nggo nari karo playon.
(Mereka berdua melenggang pergi. Pada langkah ke empat si bapak kembali memainkan serulingnya. Tapi kali ini si bapak tidak meniup dan memencet nada-nada yang terdengar syadu seperti tadi. Kali ini, si bapak meniup dan memencet nada-nada yang terdengar bahagia).
Scene 10
(Lampu yang menerangi gerai sepatu anak-anak itu dipadamkan, tepat ketika mereka berdua mulai melangkahkan kaki meninggalkannya. Selang beberapa menit kemudian, salah satu pramuniaga terlihat sedang menurunkan pintu roling dor yang melindungi gerai tersebut: Greeeeeeeekkkkkkkkkkkk…).***
Jetis, 2008
-Suluh P.W-
1 komentar:
hiKz....
lg bikin film hya...
maafkan saia gag bisa ikt bantu bikinnya....
Posting Komentar