jingga,jingga,jingga.

gurauan sedikit tentang rasa

seseorang memutus jalan mesinku
membawa sebakul keputusan untuk berlari
terkejar oleh beratnya uang yang maya
begitu jauh yang terlalui

celotehan tak berguna bagi seorang malam

sekiranya sudah malam
ada yang terkapar menunggu
terlunta oleh sebungkus mimpi bahagia
aku sudah lapar,,,,

cucuku sudah cukup menanti

Nesia "momo" Amarasthi
19 Okt 2008, KTR

Sedang birahi…..

Sedetik yang lalu aku mengingatmu

Memelukmu dalam perasaanku

Mencumbumu diantara legit-legit mimpi

Menguntai tiap waktu denganmu

Denganmu, denganmu lagi dan lagi

Sesaat itu membasahkan tawaku

Sekemudian dirimu hadir…

Dua detik yang lalu aku birahi

Sekarang aku bersamamu

Berbagi percintaan jumawa

Bergelora dalam dunia seadanya

Serta birahiku terhadap dirimu

Dan aku basah oleh hujan jinggamu….

Nesia Putri Amarasthi

121008, Kuningan Yk

BOLEHKAH SUATU HARI NANTI AKU MENJADI ASTRONOT

kusaksikan goresan namamu
menjelma jejak kaki menuju galaksi
bimasakti


-beni satryo-
CBS, 2008

..........datang saja...........

Sudah terbiasa jatuh dari yang biasa saja. Hanya sakit yang terasa

Hanya takut yang terulang. Dan mungkin akan kuulang lagi. Bersama sakit dan takut. Seketika pernah seorang lelaki datang. Menawarkan perasaan sakit dan mengakibatkan takut. Aku menerimanya. Dan datang saja, sakit dan takut. Sekemudian lalu ku jatuh.

Hanya sebentar saja.

Hanya tidak lama.

Hanya aku sudah pernah lagi.

Hanya sakit dan takut lagi dari seorang lelaki saja.

Tawaku terbahak atas sakitkku.

Senang sekali merasakannya.

Menghabiskannya dalam keramaian makian huruf.

Dalam keromantisan kesepian.

Memunculkan ketakutan yang sementara akan bercumbu dengan keributan kesepian.

Aku benar-benar sendiri sekarang.

Sungguh…….

bukan hanya takut saja…….

Bukan pula sakit saja………

Karena mungkin juga pula aku terbiasa….

Dan ini benar-benar bukan sebenarnya AKU…..

Berlari mengejarnya sudah lelah

Menunggunya telahLah bosan

Dan AKU….

Memilih saja bercinta dengan kesendirianku…

Hingga segalanya sudah sepi dan aku telah baru

Menemukannya lagi…

Sepiku,,,

Sakitku,,,,

Takutku….

Nesia P. Amarasthi

210708, Ponorogo

SEPATU

Scene 1

(Pada sebuah senja yang hangat. Terlihat seorang bapak yang sedang memainkan serulingnya dengan anak perempuannya yang sedang duduk di sampingnya. Seorang bapak dan anak perempuannya itu adalah sepasang pengamen yang setiap harinya mengamen di depan situ, di emperan plaza—tepatnya, di bawah etalase kaca sebuah gerai sepatu anak-anak).

Scene 2

(Sepanjang jalan emperan plaza itu. Orang terlihat lalu-lalang. Saling berpapasan tapi tidak saling menyapa).

Scene 3

(Si bapak terus memainkan serulingnya, meniup dan memencet nada-nada yang terdengar syahdu, dan beberapa orang yang melintas terlihat menjatuhkan uang receh—entah takjub dengan permainan serulingnya, entah iba dengan pemain serulingnya—di dalam gelas aqua yang berada tepat di depan si bapak).

Scene 4

(Di sampingnya, anak perempuannya terlihat sedang menghadap ke arah etalase kaca. Rupanya ia sedang asyik memandangi sepatu-sepatu yang di pajang di dalamnya—khususnya sepatu yang mencuri hatinya, sepasang sepatu yang ada di ujung sebelah kanan).

Anak

(Sambil menoleh ke arah ayahnya yang sedang sibuk meniup seruling).

Aku pengen sepatu kuwi pak…

Bapak

(Setelah si anak berkata kepada si bapak. Suara dari seruling yang sedang di mainkan si bapak lambat laun hilang. Kemudian si bapak berkata pelan).

Sesok yo nduk…

Anak

Ket mbiyen koq sesok-sesok terus to pak…

Bapak

(Si bapak hanya diam, sambil terus memandangi wajah dan mata anaknya yang masih terlalu polos itu dalam-dalam. Lalu si bapak mengelus-elus kepala anaknya).

Sesok yo…

(Ucapnya lembut, dengan mimik muka yang meyakinkan).

Scene 5

(Perlahan hari telah gelap, jalanan di sepanjang emperan plaza sudah terlihat sepi. Hanya satu dua orang saja yang masih terlihat lalu lalang. Dari luar, lampu pada beberapa gerai terlihat padam satu demi satu—tanda sudah tutup—kecuali gerai sepatu tempat si bapak dan si anak itu berada. Memang dari luar gerai sepatu anak-anak itu masih terlihat terang. Tapi dengan tiga orang pramuniaga yang terlihat sedang berkemas-kemas di dalam—tanda mau tutup).

Scene 6

(Si bapak berdiri dan membalikkan badannya menghadap ke etalase kaca. Selepas menghitung semua uang yang di dapatnya seharian, yang tentu saja jumlahnya tak seberapa).

Bapak

(Bertanya kepada anaknya yang sedang asyik menari-nari dan berlari kesana kemari).

Nduk! Sepatu sing mbok pengeni sing ndi to?

Anak

(Si anak menghentikan keasyikannya. Lalu mendekatkan badannya ke etalase kaca dan menunjuk sepatu yang di inginkannya sejak dulu).

Sing kuwi…

(Si anak berkata tanpa beban. Lalu kembali melanjutkan keasyikkannya. Ia kembali menari dan berlari kesana kemari seperti tadi).

Bapak

(Si bapak memandangi sepatu yang diinginkan anak perempuannya itu. Lalu dilihatnya harga sepatu itu).

Aduh, regane jebule larang banget…! Duwit sak mono, iso entuk soko endi aku!!?

(Lalu matanya tertuju kearah seruling yang ia genggam).

Ngedol seruling iki yo gak mungkin, payuo yo paling gak sepiro…?

(Kemudian dipandanginya si anak, yang sedang asyik bermain. Pada saat itulah mata si bapak mulai terlihat berkaca. Lalu dalam hati ia berkata)

Sesok sing tak maksud mau kuwi koyoke dudu sesok nduk…

Scene 7

(Si anak seolah cuek dan tidak sadar, kalau bapaknya dari tadi sedang memperhatikannya dengan mata yang berkaca. Ia terus menari dan berlari kesana kemari di sepanjang jalan pada emper plaza yang lenggang dan terlihat sepi oleh pejalan kaki. Entahlah, mungkin saat itu si anak seperti menemukan kebahagiaan dan kebebasan yang teramat sederhana, dari kaki kecilnya yang telanjang, tanpa alas itu. Makanya ia seperti mati rasa terhadap kesedihan bapaknya, bahkan kesedihannya sendiri).

Scene 8

(Bapaknya masih dalam posisinya tadi—berbalik dan menghadap ke arah etalase kaca—Matanya semakin terlihat berkaca. Ah, perasaan yang kini ia rasakan adalah perasaan tak berdaya sebagai seorang bapak, di tambah lagi dengan pikiran yang bingung, pikiran yang tak kunjung berhasil menemukan jalan keluar. Bagaimana cara memenuhi janjinya, membelikan sepatu untuk anak perempuannya, yang tadi sore sudah terlanjur ia tambatkan kepada anaknya? Dan sekarang pun ia jadi kebingungan. Bagaimana cara membeli sepatu yang sejak lama diinginkan anak perempuannya itu? Tak mungkin ia membohongi anaknya lagi seperti biasa dengan menjawab, “sesok yo nduk”, ketika besok anaknya kembali meminta, “aku pengen sepatu kuwi pak…” Tak mungkin, tak mungkin si bapak bohong lagi. Sebab untuk kali ini, si bapak benar-benar sudah tak kuasa lagi berbohong untuk yang kesekian kalinya kepada anak perempuannya itu, yang memang tak pernah punya sepatu, sejak lahir sampai sekarang).

Scene 9

(Si anak yang dari tadi terlihat terus berlari kesana kemari, sepertinya sudah mulai terlihat kelelahan. Sejenak kemudian si anak duduk, sambil menyelonjorkan kaki kecilnya yang semakin terlihat dekil saja, khususnya pada bagian alas kakinya. Karena kakinya yang telanjang tanpa alas itu. Baru saja ia gunakan untuk menari-nari dan berlari-lari kesana kemari. Si anak sekarang duduk manis dengan kaki kecilnya yang ia selonjorkan, sambil sesekali ia goyang-goyangkan).

Anak

(Sejenak kemudian matanya mengarah kembali kepada sepatu yang diinginkannya tadi. Ia memandangi warna, bentuk dan lekuk sepatu itu dalam-dalam. Kemudian ia berkata kepada bapaknya yang dari tadi masih juga berdiri dengan posisi yang sama).

Aku rak sido njaluk ditukokke sepatu kuwi, ah pak! Koyokke sepatu kuwi rak penak nek nggo nari-nari karo mlayu-mlayu.

Ayo bali wae pak, wis wengi! Aku wis kesel!

Ibu karo adik mesti wis ngenteni neng kono.

(Sambil menunjukkan telunjuknya ke arah entah).

Iki kan wis wayahe mangan, pak! Duite mau dinggo tuku mangan wae sing akeh.

Bapak

(Si bapak tiba-tiba tersenyum. Rasa tidak berdaya yang melingkupi hati dan pikirannya tadi, seolah lenyap seketika. Setelah mendengar perkataan anaknya barusan. Si bapak pun lalu mengusap air matanya, yang baru saja meleleh).

Anak

Loh, pake bar nangis po? Padahal ora ono opo-opo, koq nangis!

Bapak

(Kemudian si bapak kembali mengusap-mengusap lelehan air matanya dengan punggung telapak tangannya)

Ora…bapak ora nangis! Ming mau rosone, moto iki rodo pedes…

Wis ayo bali…!

(Si bapak menggandeng tangan kecil anak perempuannya itu).

Bener omonganmu nduk! Sepatu jinjit ngono kuwi pancen gak penak nek nggo nari karo playon.

(Mereka berdua melenggang pergi. Pada langkah ke empat si bapak kembali memainkan serulingnya. Tapi kali ini si bapak tidak meniup dan memencet nada-nada yang terdengar syadu seperti tadi. Kali ini, si bapak meniup dan memencet nada-nada yang terdengar bahagia).

Scene 10

(Lampu yang menerangi gerai sepatu anak-anak itu dipadamkan, tepat ketika mereka berdua mulai melangkahkan kaki meninggalkannya. Selang beberapa menit kemudian, salah satu pramuniaga terlihat sedang menurunkan pintu roling dor yang melindungi gerai tersebut: Greeeeeeeekkkkkkkkkkkk…).***

Jetis, 2008


-Suluh P.W-


Kenangan Dari Sebuah Ledakkan

Asap itu terbang tapi tidak sampai ke angkasa. Ia hanya terbang setinggi dua kali tinggi badanku.

Asap itu adalah gelisah yang keluar lewat mulutku. Asap itu adalah diri lain dari diriku, yang setiap malam selalu setia menemaniku merakit bom atom dalam dada dan menyusun tanda tanya dalam kepala.

Tok…tok…tok…

Aku mendengar suara ketukan dari luar pintu kamarku. Mungkin itu temanku yang ingin bertamu

Aduh maaf ya! Malam ini aku tak bisa terima tamu. Itu bukan karena aku malas, sombong atau sedang sangat sibuk. Namun, karena aku sudah tidak punya media lagi untuk meraih kunci dan kenop pintu.

Tanganku telah berubah menjadi asap, teman. Kakiku juga telah berubah menjadi asap, teman. Kepalaku juga telah berubah menjadi asap, teman. Seluruh tubuhku sekarang adalah asap, teman.

Asap itu terbang tapi tidak sampai ke angkasa. Ia hanya terbang setinggi dua kali tinggi badanku. Lalu lenyap dan menjadi kenangan.

Kenapa?

Karena asap itu tidak lain adalah diriku yang meledak bersama bom atom dan tanda tanya.

Jetis, 19-20 Juni 2008



-Suluh P.W-

Lukisan yang bergambar gadis kecil menutup payung

Langit mengaduh

gadis kecil setengah berlari

ada juga yang menengadahkan tangan,,
Langit kosong dan sepi

Lantas hujan menyapu sunyi

-2008-

(Beny Eek)

di bangku taman

bulan paruh jatuh ke bumi

semuanya menepi

merah, jingga, nila
ungu, kuning, hijau semuanya menepi

lantas (masih) ada juga yang berdiri

dua hati menantang sunyi


- 2008-

(Beny Eek)

Mengadu Kepada Waktu!

Waktu!

Banyak ketombe di rambut dan kulit kepalaku

Waktu!

Seminggu telah berlalu

Waktu!

Aku banyak meninggalkan jejakjejak di situ

Waktu!

Apalagi jejak lupa yang kutinggalkan

di atas peristiwa mencuci rambut dan kulit kepala

Waktu!

Lihat

Waktu!

Ketombeku berjatuhan seperti salju

Waktu!

Kemudian bertebaran seperti waktu

Waktu!

Ketika terus kugaruk dengan sepuluh ujung kuku

Waktu!

Jogja, 8 Mei 2008


-Suluh P.W-

Menimbang dan Membayangkan Titik Sublim

Pada zaman post-kolonial atau zaman dimana orde lama mulai berkuasa di Indonesia, sebuah istilah ‘seni revolusioner’ atau ‘seni kerakyatan’ yang diusung Lekra, terus-menerus digemakan, bahkan oleh Presiden Soekarno sendiri pada masa itu. Kemudian, menyinggung sedikit tentang Lekra. Paham sosialis pun menjadi identik dengannya, apalagi mengkontekskan itu pada ideologi seni revolusioner atau seni kerakyatan yang jelas-jelas mereka usung di Indonesia. Hal itu di satu sisi membawa pengaruh positif bagi kehidupan di Indonesia, yakni seni memiliki potensi dalam proses perubahan sosial dan pembentukan nilai baru ketika masa transisi, yakni dari zaman kolonial ke zaman post kolonial.

Namun di sisi lain, ideologi seni semacam itu (baca: seni revolusioner atau seni kerakyatan) ternyata juga membawa pengaruh negatif bagi seni itu sendiri, terkhusus pada arah perkembangannya, seni revolusioner atau seni kerakyatan menjadi begitu lekat dengan kepentingan politik para politisi saat itu, bahkan tidak sedikit seniman yang pada masa itu ikut berpolitik. Sehingga ungkapan John F. Kenedy tentang peran karya seni dalam sejarah sebuah bangsa—kalau politik kotor, puisi yang membersihkannya—tidak berjalan seperti seharusnya.

Dengan kata lain, eksistensi seni terancam, karena mengalami disfungsi besar-besaran. Seni cenderung digunakan sebagai kendaraan atau alat untuk mencapai dan mempertahankan ambisi politik seseorang atau kelompok. Parahnya lagi, penguasa yang berkuasa pada masa itu, turut campur tangan dalam penentuan standar dan arah kesenian, yang itu jelas-jelas membelenggu kebebasan dan mengancam idealisme berkesenian.

Sebuah kegelisahan terhadap kenyataan semacam itu muncul dari beberapa seniman yang membentuk lingkar Manikebu. Bagi kelompok ini, ideologi seni yang berkembang dan menjadi standar pada masa itu selain membelenggu idealisme berkesenian. Rupanya juga telah membuat lubang jebakan yang sangat lebar untuk seni itu sendiri. Lubang jebakkan yang memerosokkan seni pada posisinya yang gelap dan rendah, yang berarti juga menjauhkan seni dari khitoh-nya. Tujuan utama mereka tidak lain adalah ingin membersihkan lapangan seni dari kotoran atau kepentingan politik apa pun. “Seni itu untuk seni!” Begitulah slogan yang dipekikkan oleh para seniman yang tergabung dalam lingkar Manikebu.

Sampai sini, saya tidak ingin menggunakan ilustrasi di atas untuk membuka dan memperpanjang lagi perdebatan dua jargon seni (seni untuk seni atau seni untuk sesuatu?), yang masing-masing diusung oleh dua lembaga yang sempat berpolemik pada tahun 60-an itu (yakni, antara Lekra dengan Manikebu) atau malah mengurai secara panjang lebar esensi dari dua paham yang masing-masing diusung oleh dua lembaga itu (antara realisme-sosial yang diusung Lekra dan humanisme-universal yang diusung Manikebu). Karena menurut saya keduanya tumbuh pada wilayah dan keadaan yang berbeda, tentunya dengan perspektif dan semangat yang berbeda pula. Atau dengan kata lain keduanya itu memang dikotomis atau terbagi.

Terbagi dalam arti dan konteks; wilayah, perspektif, semangat dan pengetahuan yang memiliki standar kebenaran masing-masing atau subjektif. Tapi walaupun demikian saya optimis, kalau keduanya itu bisa bertemu pada titik sublim yang terus menerus digali oleh seorang seniman. Kemudian sebuah pertanyaan lanjutan: “Apa indikasinya kalau seorang seniman dengan karya seninya, dikatakan telah mencapai titik sublim?”

Jujur saja pertanyaan tersebut belum siap saya jawab, karena saya belum tahu persis indikasinya apa dan tentunya sangat beresiko dan mungkin juga terburu-buru, untuk saya jawab sekarang, karena saya pun sedang dalam proses menggali yang tak henti untuk menuju titik sublim itu, tapi saya toh juga belum tahu jika ditanya, kapan saya akan sampai pada titik sublim itu?

Ah, tapi titik sublim itu memang tidak bisa saya jawab sekarang, tapi mungkin kalau saya mau iseng menimbang dan membayangkannya seperti ini: Mungkin atau bisa jadi kelak! Ketika saya berhasil menciptakan sebuah karya seni, yang memiliki potensi luar biasa; bisa menciptakan gema, gaung, dengung atau suara-suara gaduh lain yang mengusik kehidupan yang selalu memasang muka baik-baik saja itu, yang juga memiliki potensi untuk mengaduk-ngaduk kesadaran diri manusia yang tertimbun oleh ke-apatis-annya sendiri, atau dengan kata lain yang secara riil telah menghadirkan realitas baru secara mistis dan universal.

Atau jika ingin lebih kongkrit lagi, sebuah permisalan—dalam konteks peristiwa politik kontemporer di Indonesia—karya seni yang mampu menyadarkan SBY-JK (baca: Penguasa) dan para mentrinya, yang baru-baru ini sukses mewujudkan rencana ‘gila’, yakni menaikkan harga BBM, yang tentu saja membuat sengsara rakyat, khususnya rakyat kecil. Nah, tapi kira-kira wujud nyata dari karya yang memiliki potensi sedahsyat itu seperti apa ya? Sayangnya, lagi-lagi saya kembali belum tahu atau jangan-jangan saya tidak tahu. Jadi selamat menimbang dan membayangkannya sendiri sajalah…

-Suluh P.W.-

Bergantung diduri



Bapak, ibu, handphone, dan kaos-kaos hitam. Dalam buku usang harian terluka banyak.Tentang nama-nama berduri. Kuminta kembali rasa yang dibilang sakit oleh berjuta akar hening. Sejenak menghandaitaulankan rekaman masa hitam putih. Sebuah tragedi membelah hati menjadi bagian empat nama. Sepantasnya bukan lagi tangis, sepantasnya gemeratak pertemuan kerikil dengan batu.

Potret Bapak

Ini perjuanganku melawan waktu. Sebuah vespa sangat besar tertarik maju oleh waktu. Dan aku menahannya untuk tak bergerak. Aku terlibat didalamnya. Didalam tarik menarik antara bapakku dan mati. Sang waktu begitu laknat. Menariknya begitu kuat, dan aku terlempar. Jauh, sangat amat jauh. Tak tersentuh oleh ayahku. Aku dalam kecupan mesra antara bapakku dan mati. Bapakku dan mati. Dan Bapakku mati. Atau semacam itu. Yang aku terlempar jauh. Yang aku kemudian mengalir hingga samudra luas tak bergaris. Tak berujung. Dan semacam menangis. Bukan bening, berbagai warna tergradasi didalamnya membentuk pelangi dan memahat potret Bapakku diatas biru.

Ibu

Ini sembahku pada sabda sang ratu. Setelah kematian demi kematian terlewati. Setelah beberapa waktu yang diciptakannya untuk menata potongan puzzle tangan, kaki, badan, kepala beserta semacam daging yang pintar didalamnya.

Aku.

Mungkin itu aku, mungkin juga yang lain, mungkin juga semuanya, juga mungkin dia. Sembahku kubentuk dalam kepulan asap rokok, dalam bersloki-sloki arak, dan dalam tundukku pada bapak. Orang yang bukan lagi kau cintai, namun menyatu bersama titik-titik perangkai rasamu.

Handphone

Ini semacam umpatanku yang tak didengar. ‘anjing!!!’. Handphoneku hilang lagi. Tak apalah, setidaknya aku tidak menangis seperti saat bapakku mati. Aku sudah biasa tanpamu. Hanya saja aku tak biasa tanpa ibu dan teman-temanku.

Kaos-kaos hitam

Ini bisa disebut perlawananku terhadap panas. Panas matahari, panas suasana, panas-panas demo, panas-panas duit, panas-panas bensin naek, panas mesin motor, panas kehilangan pacar, panas ‘mencintai’ seseorang, panas-panas semakin memanas hingga memanas-manasi diriku yang panas yang sedang berkaos hitam yang menyerap segala panas.

Yogya, 290508

-Nesia_Momo-


GARU…….daahhh !

Sayapnya telah patah
Tertumbuk oleh waktu
Di mana seluruh jagad berkiblat ke Barat
Begitupun pula anaknya
Sehingga sayap itu terinjak-injak oleh kaki-kaki
yang mulai kekar dan mulai bisa mencengkeram
Dan sayap itu berdarah…parah……tumpah
Tercengkeram oleh anaknya sendiri
Garuda itupun tidak lagi bisa berdiri tegak
Dengan pandangan lurus ke depan dan sejuta semangat di dada
Ya… dia tak bisa lagi seperti itu
Anaknya yang sangat ia banggakan
Lebih bangga tererami oleh Elang
Dia kini hanya bisa berdiri lunglai
Dengan pandangan tertunduk lesu tertancap pada tanah
Meratapi putra-putrinya
Yang lebih bangga berbalut garis-garis merah putih bertabur bintang,
Ataupun secarik kain putih bersilang merah darah
Semerah tetesan darah yang mencair dari mata
Mata sang Garuda
Garuda belum lagi bisa berdiri tegak dan mendongak
Tatkala selimut merah putih kebanggaannya
Tercabik compang-camping oleh cakar anaknya
Dan sesaat sebelum cakar itu menembus jantungnya
Si Garuda berkata,
“ Elang bukan matiku, Garuda kecil matiku ! “

Salam Budaya!!!

berawal dari sekumpulan anak Filsafat yang "agak gila" dengan berkegiatan dalam wadah seni dan budaya. Terbentuklah sebuah Forum Seni dan Budaya Retorika di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Dengan beraneka ragam isi dan kapasitas, kami berkegiatan, berkumpul ( ngopi, pesta sajak, repertoar, dll).
Didalam sekumpulan kegiatan, terdapat beberapa divisi, yang antara lain :
teater, sastra, film, multimedia, kriya, musik,tari. Eh ada lagi, divisi bingung bisa dimasukkan jugah... hehehe... just jokes...
Mari duduk, berbincang dan berkarya bersama kami Forum Seni dan Budaya Retorika.